CONTACT

CONTACT NUMBER


WA 081287556746


Jumat, 22 April 2011

Keutamaan Membaca Sholawat

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”[5].
- Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [6]. Juga karena ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Wahai Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud[7].
- Makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk[8].
- Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya[9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya,
{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}
“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 5 Rajab 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
--------------------------------------------------------------------------------
[1] HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643).
[2] Lihat “Sunan an-Nasa’i” (3/50) dan “Shahiihut targiib wat tarhiib” (2/134).
[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).
[4] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bainal ittibaa’ walibtidaa’” (hal. 77)
[5] Lihat kitab “Minhaajus sunnatin nabawiyyah” (5/393) dan “Raudhatul muhibbiin” (hal. 264).
[6] Lihat kitab “Fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 3-4), tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
[7] HSR al-Bukhari (no. 5996) dan Muslim (no. 406).
[8] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156).
[9] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).



Bersih-Bersih Perabotan Menggunakan Bahan Ramah Lingkungan


Tanpa kita sadari, banyak produk pembersih rumahtangga yang meracuni tubuh kita, atau menimbullkan alergi, bahkan bisa mencederai tangan kita. Untuk menghindarinya, cobalah bahan pembersih alami yang ramah lingkungan.
Produk pembersih rumah tangga kini merupakan bisnis besar. Mari, perhatikan deretan bahan pembersih rumahtangga yang dijual di pasar-pasar swalayan. Berbagai merek di pajang di rak-rak setiap pasar swalayan. Semua dengan janji “membersihkan yang terbaik”. Selain mahal, produk-produk tersebut dibuat dari bahan kimia yang keras yang bisa mengganggu kesehatan kita jika terhirup, merusak tangan kita jika tidak menggunakan sarung tangan, dan merusak alam lingkungan jika dibuang sembarangan.
Menurut penelitian di Australia, jika terpapar bahan pembersih yang berbasis kimia dalam jangka panjang, maka liver dan ginjal bisa terganggu bahkan bisa merusak fungsinya; produksi hormon pun kacau. Beberapa jenis bahan kimia yang digunakan bahkan bisa memicu timbulnya sel-sel kanker.
Jika anda sensitif, mencium atau terpapar bahan pembersih bisa memicu munculnya alergi, asma, migren, atau kondisi gangguan-gangguan kesehatan lain.
Setelah mengetahui efek negatif dan berbahaya dari berbagai pembersih rumahtangga yang berbahan dasar zat kimia, marilah kita kembali pada kebiasaan nenek moyang kita yaitu membersihkan perabot rumah tangga menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan seperti jeruk nipis, tepung jagung, cukai dll.

Jeruk nipis
Jeruk nipis sangat penting sebagai bahan pembersih perabot maupun peralatan rumahtangga seperti piring atau ‘pecah belah’ yang kotor karena lemak/minyak. Jeruk nipis juga mempu menghilangkan noda air (atau lainnya) di perabot kayu. Carany, buatlah pasta dari air jeruk nipis dicampur dengan cuka dan baking soda.
Untuk membersihkan peralatan ‘pecah belah’ perak, tembaga, gunakan irisan jeruk nipis. Perabot bisa kinclong kembali dengan memolesnya dangan campuran satu cangkir minyak zaitun dan ½ cangkir jus jeruk nipis.
Untuk menghilangkan noda tinta, gunakan pasta yang dibuat dari cream of tartar dan jus jeruk nipis. Gosokkan pada noda, biarkan selama satu jam lalu cuci. Sedanglkan noda karat pada meja marmer dapat dihilangkan dengan menggosoknya dengan belahan jeruk nipis yang sudah dibubuhi garam.
Agar kaus kaki putih dari katun cemerlang kembali dan tidak berbau, rebus dalam air yang telah dibubuhi irisan jeruk nipis.
Agar kol atau bunga kol tidak berbau saat direbus, bubuhi air jeruk nipis sekedarnya ke dalam air rebusannya.

Tepung jagung
Tepung jagung atau dikenal dengan tepung maizena bermanfaat untuk membersihkan karpet, keset, dan sepatu. Selain membersihkan, tepung meizena juga menghilangkan bau karpet/sepatu yang tidak enak. Menurut penelitian si Australia, tepung maizena juga aman digunakan sebagai bedak kulit.
Berikut ini resep untuk membuat bahan penyegar karpet dan keset; 4 cangkir tepung maizena, ¼ cangkir cuka, 25 tetes (masing-masing) minyak esensial rosewood, eucalyptus, dan lavender.
Nasihat ahli, sebelum Anda menggunakan vacum cleaner untuk membersihkan karpet, taburi terlebih dahulu karpet dengan tepung maizena.
Tepung maizena juga dapat digunakan membersihkan cermin dan kaca (jendela). Guanakan 2 cangkir air hangat yang sudah diberi 1 sdm tepung maizena. Aduk dan kocok sampai tepung larut dan semprotkan pada cermin/kaca. Gunakan sehelail lap untuk membersihkannya, lalu ulangi dengan gumpalan kertas koran bekas.

Baking soda
Baking soda mampunyai bahan manfaat sebagai bahan pembersih benda-benda yang mengikat seperti alumunium, krom, perhiasan, porselen, perak, stainless steel, dan timah. Taruh beberapa sendok makan baking soda dalam kantung kertas, lalu taruh dalam lemari es, microwave, oven, lemari, atau kloset. Biarkan beberapa lama sampai bau yang tidak enak hilang.
Gunakan baking soda sebagai campuran dalam air untuk mencuci pakaian, maka pakaian akan menjadi lembut. Selain itu baking soda juga membersihakan noda-noda yang menempel pada pakaian.
Pakaian yang ternoda oleh oli motor atau benzin, taburi dengan baking soda lalu masukkan lalu masukkan ke dalam plastik, tutup rapat dan biarkan selama 2 hari sebelum dicuci.
Apalagi kegunaan baking soda? Untuk membersihkan tangan setelah usai berkebun atau memaksa. Buatlah yang terdiri dari baking soda dan air. Pasta tersebut juga bisa digunakan sebagai pembersih wajah. Dan juga sebagai anti-bau dengan membubuhkannya di ketiak.
Inilah resep sehat membuat pasta untuk bersih-bersih badan maupun perabotan; ¼ cangkir baking soda, 1 sdm makan cuka masak, 5-6 tetes minyak serai atau minyak esensial lemon. Campur rata menjadi bentuk pasta dan gunakan pasta tersebut untuk berbagai aktivitas bersih-bersih.
Untuk membersihkan perhiaasan perak, gunakan pasta yang dibuat dari ¼ cangkir baking soda dan 2 sdm air. Aduk rata, gunakan spons basah untuk menggosok, lalu dilap dengan lap kering.

Bawang merah
Bumbu dapur ini selain bermanfaat untuk menurunkan demam pada anak-anak dengan memborehkan irisannya pada dahi dan leher, juga bermanfaat utnuk bersih-bersih bau ruangan yang baru saja dicat. Caranya, belah dua beberapa bawang merah dan letakkan di beberapa tempat dalam ruangan baru dicat dengan belahan menghadap ke atas. Dan setelah ‘tugasnya usai’ sebaiknya bawang merah tersebut dibuang saja, jangan dipakai untuk memasak.
Karpet anda ternoda oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan? Jangan khawatir, noda bekas terbakar dapat dihilangkan dengan bawang merah yang telah dibelah dua. Gunakan belahannya. Setelah itu dilap dengan lap basah, lalu disikat untuk menegakkan kambali bulu-bulu karpet.

Garam
Garam merupakan bumbu yang sangat penting. Bayangkan masakan tanpa garam...Meskipun begitu garam juga dapat dimanfaatkan untuk membersihkan perabotan atau pakaian. Noda jamur pada pakaian, misalnya dapat dibersihkan dengan air jeruk nipis yang dibubuhi sedikit garam. Gosok dan jemur di panas matahari. Lalu dicuci.
Agar celana jeans tidak cepat pudar warnanya, rendam dalam air garam (2 sdm garam dilarutkan dalam 1 liter air dingin).
Lubang wastafel yang berbau, tuangi dengan larutan pekat garam dapur, setelah itu guyur dengan air biasa sampai sisa garam hilang.
Untuk mencegah jamur pada tirai shower, sesekali turunkan tirai dan rendam beberapa lama dalam air garam. Setelah itu cuci dengan air biasa sampai sisa garam hilang.

Cuka
Membersihkan ikan pada produk laut lainnya selalu digunakan jeruk nipis atau cuka. Tuangi 1 sdm cuka dalam air cuciannya. Untuk menghilangkan bau-bauan pada panci, rebus air dalam panci tersebut lalu bubuhi sedikit cuka dalam air rebusannya. Rebus selama kira-kira 1 menit.
Bersihkan pintu kaca shower dengan spons yang telah dibasahi dengan air dan sedikit cuka. Sedangkan noda lem dapat dihilangkan dengan mudah dengan lap yang telah dibasahi dengan cuka.

Pasta gigi
Nah pasta gigi pun ternyata bermanfaat untuk bersih-bersih tidak saja gigi tetapi juga perabotan. Noda air di cermin atau perabotan dapat dihilangkan dengan pasta gigi. Caranya basahi noda air dengan lap basah, lalu semirkan pasta gigi pada noda. Biarkan beberapa lama, lalu dilap hingga bersih. Untuk noda yang sulit dihilangkan, bubuhkan soda kue pada pasta gigi yang akan digunakan.
Pasta gigi juga dapat menyamarkan goresan pada kaca. Menambal lubang bekas paku di dinding yang putih, gunakan odol, biarkan mengeras.

by  calosa muslim fashion

Awas Sepatu Tumit Tinggi


Penelitian yang dilakukan di University of Harvard menyatakan bahwa para wanita yang gemar mengenakan sepatu bertumit tinggi rentan terhadap sakit punggung bawah dan memicu munculnya osteoartritis.

by calosa muslim fashion

Waspadai Makanan Panggangan

Anda suka sate atau steak?sebaiknya anda waspada, karena menurut penelitian, bagian yang kehitaman hasil proses memanggang ternyata mengandung zat kimia yang bersifat karsinogen (pemicu sel-sel kanker). Nah, lebih baik memasak sehat dangan cara mengukus, merebus, memepes dll. Jangan memanggang.
by calosa muslim fashion

Gula Membuat Kulit Kendur

Menurut penelitian, gula menghambat kolagen dan kekenyalan kulit. Sedangkan vitamin c merupakan unsur vital untuk menciptakan kolagen. Dengan dmikian bermacam-macam jeruk yang kaya kandungan vitamin c dapat membantu Anda menjaga kekenyalan dan kebugaran kulit dan kesehatan tubuh.
 
by calosa muslim fashion

Olahraga Identik Viagra


Jangan kaget jika dikatakan oleh para peneliti di Australia bahwa olahraga bersifat afrodisiak. Melakuka olahraga high impact selam 20 menit saja telah mampu meningkatkan respons seksual pada wanita sebanyak 169%. Dengan demikian, jika anda termasuk wanita yang 'dingin' boleh mencoba melakukan senam aerobik tiga kali seminggu @ 20 menit untuk mengimbangi suami yang bergairah.
 
by   calosa muslim fashion

Kamis, 21 April 2011

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu

Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.
Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun dari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.
Anak ini tinggal di tengah saudara-saudaranya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama. Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara saudara-saudaranya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”
Mereka tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan. Meskipun demikian, dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal.
Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.
Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah, dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar. Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.
Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh, ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”
Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,
Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-. Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Allah. Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang kamu inginkan ….”
Tentu saja, aku menangis keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara, dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”
Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaianku seraya berkata, “Tawakal kepada Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”
Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudaraku hanya diam saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.
Aku pun berjalan sambil tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di belakangnya, sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku menyesali perpisahanku dengan keluargaku.
Setelah lewat sembilan hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang unta itu benar benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak sumur dan jamuan makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai semuanya dan masih merasa sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu. Dalam hati, aku berkata, “Bagaimana mungkin aku hidup di suatu negeri yang aku tidak mengetahui apa pun dan tidak mengenal siapa pun? Aku berangan-angan, andaikan aku bisa melihat, pastilah aku sudah berlari entah kemana … ke padang pasir barangkali. Akan tetapi, atas rahmat Allah, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu. Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada Syekh Abdurrahman Al-Qasim rahmahullah dan mereka katakan, “Ini orang asing, hidup sebatang kara.”
Syekh menghampiri aku, lalu menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana. Kemudian, beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka air mataku. Beliau berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku pun menceritakan kisahku kepada beliau.
“Kamu akan baik baik saja, insya Allah. Semoga Allah memberimu manfaat dan membuat kamu bermanfaat. Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan melihat nanti hal-hal yang menggembirakanmu di sisi kami. Kamu akan kami gabungkan dengan para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan kami beri tempat tinggal dan makanan. Di sana ada saudara-saudara di jalan Allah yang akan selalu memperhatikan dirimu.”
Aku menjawab, “Semoga Allah memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku tidak menghendaki semua itu. Aku ingin Tuan berbaik hati kepadaku, kembalikan aku kepada keluargaku bersama salah satu kafilah yang menuju Al-Qashim.”
Syekh berkata, “Anakku, coba dulu kamu tinggal bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau tidak, kami akan mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Allah.”
Selanjutnya, Syekh memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini dengan Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia dengan baik.”
Orang itu membimbing dan membawaku menemui dua orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut kedatanganku dengan baik dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku ceritakan kepada mereka berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah tinggal di situ karena harus berpisah dari keluargaku. Tak ada yang dilakukan kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku. Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama sama mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang kepada mereka. Keduanya selalu bersikap baik padaku. Semoga Allah memberi mereka dariku balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri belum juga terlepas dari kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku masih tetap menangis dari waktu ke waktu atas perpisahanku dengan keluargaku.
Kedua temanku itu tinggal di sebuah kamar dekat masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu bersama mereka. Pagi-pagi benar, kami pergi shalat subuh, lalu duduk di masjid mengikuti pengajian Alquran sampai menjelang siang. Syekh menyuruh kami menghapal Alquran. Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa saat, makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang (qailulah), dan sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti pengajian.
Demikian yang kami lakukan setiap hari hingga akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi sedikit, makin membaik dari hari ke hari, bahkan akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menghapal Al Quran, terutama setelah Syekh–rahimahullah–memberi dorongan dan perhatian khusus kepadaku. Aku pun melihat diriku mengalami kemajuan dan menghapal hari demi hari. Sementara itu, Syekh selalu mempertajam minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata, “Kenapa kalian tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan dan ketekunannya, padahal ia orang buta!”
Dengan kata-kata itu, aku semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan teman temanku dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah bulan, Allah ta’ala telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga dapatlah aku menikmati hidup baru ini.
Syahdan, setelah tujuh bulan lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam diriku, “Subhanallah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian, dan penghinaan, sedangkan aku merasa menjadi beban mereka?”
Demikianlah kehidupan yang aku jalani di Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan aku sudah dapat menghafal Alquran sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku ajukan hapalanku itu kehadapan Syekh sebanyak dua kali. Selanjutnya, Syekh mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syekh Muhammad bin Ibrahim dan Syekh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada mereka. Kemudian, guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam halaqah-halaqah ilmu. Adapun murajaah Alquran, dilakukan sehabis shalat subuh, kamu akan dipandu oleh Fulan. Sesudah magrib, kamu akan dipandu oleh Fulan.”
Sejak saat itu, mulailah aku menghadiri halaqah-halaqah dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu dengan kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah, Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh materi diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.
Sementara itu, aku sendiri, hari demi hari semakin merasa betah, semakin senang, dan tenteram hidup di lingkungan itu. Aku benar benar merasa bahaia mendapat kesempatan mencari ilmu. Sementara itu, agaknya orang tuaku di kampung selalu bertanya kepada orang-orang yang bepergian ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku beliau mendapat berita-berita tentang perkembanganku.
Demikianlah, alhamdulillah, aku berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati taman-taman ilmu. Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk menjenguk keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus perjalananku bersama seorang tukang unta. Dengan memuji Allah, aku pun berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka sangat gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama Ibuku–rahimahallah–. Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan aku katakan, “Aku kira, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih bahagia selain aku ….”
Ya, kini mereka melihatku dengan senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku menceritakan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang telah aku alami selama ini. Mereka senang mendengarnya dan memuji kepada Allah.
Setelah beberapa hari berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta izin untuk pergi meninggalkan mereka kembali. Mereka bersikeras memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku segera mencium kepada ayah-bundaku. Aku meminta pengertian dan izin kepada keduanya, dan alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.
Adapun dari teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang menceritakan, “Dia sangat rajin dan bersemangat dalam mencari ilmu, sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman seangkatannya. Sangat banyak ilmu yang dia peroleh. Adapun hal yang sangat ia sukai adalah apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan kepadanya sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang berdiskusi dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hapal yang sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.
Tatkala umunya mencapai 18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan santri santri kecil dan agar menyuruh mereka menghapalkan beberapa matan kitab.
Ketika Fakultas Syariah Riyadh dibuka, beberapa orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia mengikutinya, dan dengan demikian dia, termasuk angakatan pertama yang dihasilkan oleh fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk menjadi tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.
Pada akhir hayatnya, dia pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan lewat tangannya muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi hakim, orator, guru, direktur, dan sebagainya.
Pada tiap musim haji, dia tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping kesibukannya sebagai pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi nafkah kepada keluarganya dan saudara saudaranya, dan dapat pula membantu kerabat-kerabatnya yang lain.
Adapun saudara saudaranya yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka mendapatkan kebaikan yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada yang kebetulan tidak pandai mencari uang.
Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,
عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)
***
artikel muslimah.or.id

Disalin dari buku berjudul “Obat Penawar Hati yang Sedih“, karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin. Penerbit: Darus Sunnah.